Rabu, 17 April 2013

Soal Ujian Nasional Tahun 2013 Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs

Ujian Nasional Tingkat SMP Tahun 2013 tinggal beberapa saat lagi. Sebagai persiapan atau latihan, dapat menggunakan Soal Ujian Nasional Mata Pelajaran Matematika Tingkat SMP/MTs ini.

Selamat berlatih. Semoga Sukses.

Rabu, 15 Agustus 2012

MGMP Matematika SMP/MTs Kota Kendari Gelar Workshop


Bertempat di SMP Negeri 9 Kendari, kelompok MGMP Matematika Tingkat SMP Kota Kendari menggelar Workshop Penyusunan Modul Pembelajaran. Kegiatan yang diikuti oleh 30 orang guru Matematika dan berasal dari SMP/MTs se-Kota Kendari tersebut telah berjalan dalam beberapa kali pertemuan, sebagai bentuk pengembangan karir guru melalui workshop. Menurut Dedy Amril Ismail, S.Pd, M.Pd selaku Ketua MGMP Matematika Tingkat SMP Kota Kendari, menyatakan bahwa saat ini pengembangan karir guru secara terprogram, berkelanjutan dan sesuai kebutuhan menjadi sangat penting dan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan guru profesional, apalagi menjelang pemberlakuan Permeneg PAN dan RB Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa pengembangan keprofesian berkelanjutan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan guru dan berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitasnya. Pengembangan keprofesian berkelanjutan juga merupakan salah satu komponen unsur utama yang kegiatannya diberikan angka kredit dan merupakan persyaratan yang wajib dipenuhi guru untuk kenaikan pangkatnya. Agar guru dapat memenuhi angka kredit yang diwajibkan tersebut, maka guru dituntut meningkatkan keprofesionalannya secara terus-menerus melalui berbagai upaya, yang salah satunya dapat diperoleh melalui kegiatan workshop atau kegiatan kolektif guru lainnya.
Dedy Amril Ismail (Ketua MGMP Matematika Tingkat SMP/MTs Kota Kendari)
Lebih lanjut, menurut guru yang sehari-hari mengajar di SMP Negeri 14 Kendari ini mengatakan bahwa dipilihnya kegiatan penyusunan modul pembelajaran dalam kegiatan kali ini karena salah satu kemampuan guru yang perlu mendapat perhatian adalah kemampuan membuat publikasi ilmiah diantaranya menyusun atau mengembangkan bahan ajar seperti modul. Selain itu, guru yang juga Ketua Ikatan Guru Indonesia Kota Kendari menyatakan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk realisasi Program Kerja Kelompok MGMP Matematika di Tahun 2012, sekaligus memenuhi keinginan rekan-rekan guru untuk menyusun dan mengembangkan sendiri bahan ajar bagi peserta didiknya.
Kelompok VI yg terdiri dari Bu Purnawati, Bu Wa Ena dan
Bu Hj. Nurul saat menyusun Modul PERBANDINGAN
Kelompok IV (Bu Azia, Pak Andi dan Pak Enta) kebagian menyusun modul BILANGAN BULAT

Kegiatan yang didanai oleh Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemdiknas ini menghadirkan narasumber Bapak DR. Kadir, M.Si dari Universitas Haluoleo, yang memaparkan tentang alur penyusunan bahan ajar dan modul pembelajaran dilanjutkan dengan asistensi penyusunan modul dan pengembangan materi pembelajaran sampai pada dihasilkannya modul pembelajaran Matematika kelas VII yang siap digunakan oleh guru yang bersangkutan.
DR. Kadir, M.Si. (UNHALU) saat membawakan materi alur penyusunan Modul Pembelajaran
Walaupun sebagian kegiatan telah memasuki bulan Ramadhan, para peserta tetap antusian mengikuti kegiatan. Hmm..., MATEMATIKA, SIAPA TAKUT...!!!
Baca juga beritanya disini 
Kendari, Juli-Agustus 2012.

Silahkan nikmati foto kegiatannya. Buat rekan-rekan peserta, tetap semangat dalam berkarya...!!!


Sabtu, 12 Mei 2012

(PROPOSAL PENELITIAN) MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK TK MUSDALIFAH DALAM MENGENAL ANGKA MELALUI PERMAINAN DADU


Pendidikan pada anak usia dini, dalam hal ini anak usia Taman Kanak-Kanak pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik/guru dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya dari lingkungan. Hal tersebut diperoleh anak melalui cara mengamati, meniru, dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak.
Sementara itu, angka (bilangan) merupakan hal yang sering dijumpai oleh anak. Dalam keseharian mereka menghabiskan sebagian waktunya dengan permainan yang menggunakan bilangan. Meskipun sering menggunakan bilangan, konsep bilangan sendiri merupakan suatu hal yang abstrak. Karena konsep bilangan bersifat abstrak, maka cenderung sukar untuk dipahami oleh anak TK dimana pemikiran mereka lebih banyak berdasarkan pada pengalaman konkret. Menurut Depdiknas (2002: 24) menyatakan bahwa agar anak dapat memahami konsep bilangan yang bersifat abstrak diperlukan benda-benda konkret sebagai perantara atau visualisasinya.
Salah satu prinsip pembelajaran matematika di TK menurut Coopley (dalam Andriyani, 2009: 38) adalah memperhatikan lingkungan dan media. Karena itu dalam pembelajaran konsep matematika diperlukan penataan lingkungan dan dukungan media yang bervariasi atau sesuai. Dadu sebagai media dapat digunakan dalam pembelajaran matematika untuk mengembangkan konsep bilangan. Media dadu tersebut mudah diperoleh dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai permainan, memiliki bentuk yang sederhana dan mudah digunakan sehingga mudah dimengerti. Dadu juga merupakan media pembelajaran konkret dan mudah dieksplorasi oleh anak TK karena memiliki manfaat diantaranya dapat menumbuhkan motivasi belajar anak karena anak bermain langsung, melihat dan dan menyentuhnya. Motivasi yang ditunjukkan dengan rasa senang mendorong anak untuk berfikir positif terhadap pembelajaran konsep angka.
Diakui memang sebaiknya pembelajaran (kegiatan pengembangan) matematika di TK, seperti juga membaca dan menulis tidak diajarkan di TK, tetapi kegiatan pengembangan tersebut sebaiknya bersifat pengenalan dan dilakukan melalui kegiatan bermain dalam suasana yang gembira dan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan motto kegiatan pengembangan di TK, yaitu bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain. Oleh karena itu khususnya anak TK perlu diberikan pendidikan yang sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya dengan cara memperkaya lingkungan belajar sambil bermainnya. Itu berarti orang dewasa (guru TK) perlu memberi peluang yang luas kepada anak untuk menyatakan diri, berekspresi, berkreasi dan menggali berbagai sumber terunggul yang tersembunyi dalam diri anak. 
Bertolak dari uraian di atas, dan dalam rangka mengemban tugas dan tanggung jawab untuk mengoptimalkan potensi kemampuan kognitif yang dimiliki anak TK Musdalifah, dimana saat peneliti melakukan observasi awal diperoleh keterangan bahwa perkembangan kemampuan dasar kognitif anak berada pada tingkatan yang relatif kurang. Diperlukan suatu upaya yang konkret untuk dapat menemukan cara tepat berkenaan dengan pembelajaran bidang pengembangan kognitif anak, khususnya yang berkaitan dengan pengenalan angka. Untuk itu, peneliti mengajukan penelitian dengan judul meningkatkan kemampuan kognitif anak TK Musdalifah dalam mengenal angka melalui permainan dadu.
Selengkapnya......

Senin, 05 Maret 2012

Deskripsi Karakter dalam Pendidikan Karakter

Setelah melihat lalulintas blog ini melalui kotak statistik, dimana kata kunci yang paling banyak dicari adalah 'deskripsi karakter untuk menilai karakter peserta didik' maka pada kesempatan ini saya mencoba membuat inti sarinya (dikutip dari buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter edisi Puskur Balitbang Depdiknas 2009).

- Religius, yaitu pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.
- Jujur, yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain
- Bertanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME.
- Bergaya hidup sehat, yaitu segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.
- Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
- Kerja keras, yaitu perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.
- Percaya diri, sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.
- Berjiwa wirausaha, yaitu sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.
- Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, yaitu berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki.
- Mandiri, yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
- Ingin tahu, yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
- Cinta ilmu, yaitu cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.
- Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain, yaitu sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.
- Patuh pada aturan sosial, yaitu sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum.
- Menghargai karya dan prestasi orang lain, yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
- Santun, yaitu sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.
- Demokratis, yaitu cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
- Peduli sosial dan lingkungan, yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
- Nasionalis, yaitu cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya, dan
- Menghargai keberagaman, yaitu sikap memberikan respek/ hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.

Semoga bermanfaat.

new hostgator coupon

Sabtu, 25 Juni 2011

Peran Guru dalam Implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Sudah setahun lebih Pemerintah mencanangkan Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa dan Metode Belajar Aktif melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2010. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Melihat keadaan kehidupan masyarakat kita saat ini, maka Pendidikan Karakter menjadi suatu hal yang mendesak untuk dilaksanakan. Olehnya itu, sekolah sebagai salah satu basis penanaman budaya dan nilai karakter perlu menyokongnya.

Implementasi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di sekolah hendaknya dilaksanakan melalui proses belajar aktif, yang berarti memberi ruang bagi guru untuk melaksanakannya secara optimal. Sesuai dengan prinsip pengembangan nilai harus dilakukan secara aktif oleh siswa (dirinya subyek yang akan menerima, menjadikan nilai sebagai miliknya dan menjadikan nilai-nilai yang sudah dipelajarinya sebagai dasar dalam setiap tindakan) maka posisi siswa sebagai subyek yang aktif dalam belajar adalah prinsip utama belajar aktif. Apalagi pembinaan karakter termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh siswa dalam kehidupannya. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) di sekolah harus dilibatkan selain komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Disinilah posisi guru menjadi amat penting, mengingat guru sebagai agen perubahan (agent of change) yang akan mengajarkan ilmu pengetahuan sekaligus mendidik dan menanamkan nilai-nilai karakter.

Untuk itu pelaksanaan pembelajaran di sekolah yang dilakukan oleh guru yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor perlu dipacu untuk dapat memiliki kreatifitas dan kesungguhan yang bersifat inovatif serta menjunjung tinggi nilai-nilai karakter sehingga akan berimbas kepada tingkah laku dan hasil belajar siswa yang lebih baik. Sebagai upaya mengimplementasikan Pendidikan Karakter dan Budaya, guru dapat melakukannya melalui pengintegrasian ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah/ dikelas yaitu melalui :
1. Kegiatan rutin seperti berdoa sebelum memulai dan setelah selesai melaksanakan pembelajaran.
2. Kegiatan spontan seperti memberi salam, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, melerai/menengahi bila ada siswa yang bertengkar, atau memungut sampah dan membuangnya di tempat sampah.
3. Kegiatan penanaman keteladanan seperti bersikap jujur, datang tepat waktu, berpakaian rapi atau berkata sopan dan menunjukkan sikap menghargai siswa.
4. Pengkondisian kelas seperti menyiapkan alat-alat kebersihan atau menempatkan bak/tong sampah di sudut kelas dan selalu dibersihkan.
5. Kegiatan terprogram seperti mengajak siswa mengikuti kegiatan ekskul sekolah, berkunjung ke Panti Asuhan atau membuat program melakukan seminar kecil-kecilan membahas suatu masalah dengan siswa.
6. Melalui mata pelajaran dengan mencantumkan pada silabus atau perencanaan pembelajaran, nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan dalam sebuah materi pembelajaran.

Dengan melalui kegiatan-kegiatan tersebut di atas akan membentuk budaya sekolah yang kuat dan berkarakter positif. Namun upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melainkan perlu upaya berkesinambungan yang dimulai dari keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat. Untuk itu perlu sinergi dengan orang tua siswa, masyarakat dan sekolah. Dengan sinergi tersebut diharapkan nilai karakter terus ditumbuhkembangkan yang pada akhirnya dapat membentuk pribadi karakter siswa yang kuat dan bermoral, yang akan membawa bangsa yang besar ini ke kehidupan dan peradaban dunia kelak.

Semoga bermanfaat.
baca juga disini
Kendari, 25 Juni 2011; 00.30 Wita.

Jumat, 06 Mei 2011

Pemerintah Pusat (Mungkin) dalam 5 Tahun ke Depan Kembali 'Mengelola Guru',

Pertanyaan ‘besar’ tersebut muncul dibenak saya bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati hari ini. Pertanyaan itu sekaligus sebuah ‘fenomena menarik’ ketika para guru meminta agar kewenangan pengelolaan guru dikembalikan ke Pemerintah Pusat setelah kita berada dalam euforia otonomi daerah. Dikatakan pertanyaan besar karena muaranya menyangkut pada hajat hidup orang banyak (guru dan anak-cucunya) karena jumlah person guru yang tercatat di pemerintah pusat sekitar 4,8 jutaan. Dan dikatakan fenomena menarik karena masih teringat di kepala ketika remormasi bergulir melahirkan apa yang namanya pembagian kue kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah. Saat itu ‘kita’ ramai-ramai menuntut agar kewenangan pengelolaan pendidikan termasuk tenaga guru dikerjakan oleh pemerintah daerah. Setelah berjalan 10 tahunan malah tuntutannya menjadi terbalik.

Beberapa alasan yang dikemukakan antara lain:

1. Masalah Kesejahteraan. Hak-hak guru semisal keterlambatan memperoleh tunjangan sertifikasi atau penyaluran dana BOS, terinjak-injak akibat kebijakan otonomi, karena cost pembangunan dibebankan kepada mereka. Sering kita dengan sumbangan pembangunan gedung anggota dewan yang terhormat, sumbangan pendirian rumah ibadah, pelaksanaan Hari Kemerdekaan atau sumbangan pelaksanaan kegiatan lain yang tidak ada berhubungan dengan konteks pendidikan. Akhirnya guru merasa sebagai sapi perahan. Dan ketiban sial-lah bagi guru yang bertugas di daerah pemekaran baru dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang (katanya) masih harus dicari karena guru di daerah itu lebih banyak mengalaminya.

2. Masalah Politik Lokal. Saat ini kita tidak bisa menutup mata bahwa tenaga pendidikan dan kependidikan terutama guru diletakkan pada posisi birokrasi berakibat inovasi dan kreatifitas mereka menjadi terpasung, dikontrol oleh pemerintah daerah. Tak heran muncul anekdot dikalangan para guru mengenai pemasungan ini yaitu Kepala Dinas menekan Pengawas Sekolah, Pengawas menekan Kepala Sekolah, terus Kepala Sekolah menekan Guru, terus Guru menekan Siswa. Pulang di rumah, Siswa menekan Bapaknya dan malamnya Bapaknya menekan Ibunya (hehehehe......). Paling dirasakan menjelang PILKADA, maka gurulah orang yang pertama ‘dicari’. Sesudah PILKADA, guru dan bidang pendidikanlah yang disimpan dalam prioritas nomor buncit. Padahal seharusnya guru steril dari masalah politik praktis, karena dikhawatirkan akan kehilangan substansi tugas mulianya yaitu menanamkan nilai luhur bagi anak bangsa ini.
Akhirnya, untuk menjawab pertanyaan sesuai judul tulisan ini, patut dicermati pendapat DR. Laode Ida (Wakil Ketua DPD RI) saat menjadi Pembicara Seminar Nasional Pendidikan yang berlangsung kemarin (1 Mei 2011) di Kendari, bahwa dengan adanya Revisi Undang-Undang Nomor 32 Tentang Otonomi Daerah maka kewenangan pengelolaan guru oleh pemerintah pusat menjadi dimungkinkan. Tinggal menunggu respon pemerintah daerah, IKHLASKAH MELEPASKANNYA..?
Selamat Hari Pendidikan.

Kendari, 2 Mei 2011.
(Ditulis setelah mengikuti Upacara HARDIKNAS).

baca juga disini:

Jumat, 01 April 2011

Wakatobi

Hai hugs...
Nih Photo cantik waktu di Pulau Wanci Kab. Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara, saat-saat menanti matahari terbenam di penghujung tahun 2010.  (Trima kasih buat Sony Cyber-Shot 1080-ku).
SELAMAT MENIKMATI.






Jumat, 25 Maret 2011

Orang Dewasa vs Anak (dalam Belajar)

"Setelah beberapa hari mengikuti kegiatan ini, saya semakin bingung. Pengetahuan saya tentang apa yang menjadi pokok pembicaraan menjadi kabur, semakin tidak jelas, saya semakin bodoh". Begitu keluhan beberapa orang teman setelah mengikuti sebuah workshop pengembangan kurikulum yang dilakukan di daerah.

Equilibrium (gambar: denissomoso.com)
 Orang dewasa susah untuk diajak berubah jika keyakinan akan sesuatu telah terpatri cukup lama didalam otaknya, dan ini melahirkan sebuah fanatisme. Setidaknya itu yang dapat saya tangkap dari berkomunikasi dengan teman-teman peserta sehingga lahirlah anggapan ‘tidak dapat berubah’ walaupun ilmu yang dibicarakan dalam kegiatan itu adalah hasil dari sebuah perubahan serta pembawaan materi dengan mempertimbangkan prinsip belajar orang dewasa (andragogi). Dalam pendidikan orang dewasa kurikulum dibangun berdasarkan kebutuhan dan minatnya sedangkan sumber nilai yang paling tinggi dalam pendidikan orang dewasa adalah belajar dari pengalaman. Jadi jangan heran bin kaget jika Anggota Dewan Yang Terhormat ngotot untuk melancong ke negeri orang dengan dalih Studi Banding, mencari pengalaman karena (mungkin) asumsi inilah yang melandasinya (catatan: jika mereka telah dianggap dewasa). Wow!!

Bagaimana dengan anak-anak? Bagi yang sering bergelut dengan pendidikan formal, telah banyak mengenal teori-teori belajar yang telah dikembangkan. Sejak dulu mengubah keyakinan atau bagaimana anak memperoleh pengetahuan, menyimpan pengetahuan, dan mentransformasi pengetahuan itu akan sesuatu hal telah diteliti, salah satunya oleh Piaget. Menurut Piaget bahwa perkembangan kemampuan intelektual manusia terjadi karena beberapa faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah penyeimbangan (equilibration). Jika kita memperoleh informasi baru dan membuat kita bingung seperti teman saya itu berarti terjadi penyeimbangan dalam struktur kognitif otaknya, yaitu proses struktur mental kita kehilangan keseimbangan sebagai akibat dari adanya informasi, pengetahuan dan pengalaman-pengalaman baru. Pengetahuan lama kita tentang sesuatu hal menjadi goyah karena adanya informasi baru yang berkaitan dengan sesuatu hal itu, kemudian berusaha untuk mencapai keseimbangan baru dengan melalui proses asimilasi dan akomodasi.  

 

Jumat, 29 Oktober 2010

WORKSHOP/SEMINAR, BUKAN JAMAN LAGI...!


Mungkin ada benarnya bahwa WORKSHOP atau SEMINAR sudah bukan jamannya lagi. Yang lagi trend saat ini adalah STUDI BANDING. Menyimak berita akhir-akhir ini bahwa Anggota Dewan kita Yang Terhormat lagi gandrung sama yang namanya STUDI BANDING, terlepas dari biaya yang besar untuk kebutuhan itu dan menuai kritikan disana-sini. Saya mungkin orang yang sepakat dengan jalan-jalan (atau STUDI BANDING) yang dilakukan anggota Dewan Yang Terhormat, asalkan misinya jelas. Misalnya STUDI BANDING yang dilakukan ke Jepang bertujuan untuk mempelajari HARAKIRI (cara mati dengan penuh kehormatan), agar Anggota Dewan Yang Terhormat bisa menjaga kehormatannya. Guru pun dapat melakukannya, asalkan dananya berasal dari kocek sendiri dan ikhlas, Insya Allah masuk surga.
Berkaitan dengan WORKSHOP atau SEMINAR, alkisah, setelah manusia dibangkitkan dari kiamat besar, dikumpulkanlah manusia berdasarkan pekerjaan-pekerjaan mereka. Para guru dari negara-negara di dunia pun dikelompokkan berdasarkan asal negara. Setelah dikelompokkan dalam tiap negara dan dengan memperhatikan barang bawaan masing-masing guru, ternyata guru-guru dari Indonesia akan lebih dahulu tiba di surga, karena bila bahan-bahan seminar dan workshop mereka disusun, akan lebih tinggi dibanding dengan guru-guru negara lain!
Jadi, mungkinkah juga guru perlu pelesiran dengan model STUDI BANDING?
Kendari, 27 Oktober 2010.
                      


Selasa, 21 September 2010

PR Hanya 'Menyulitkan' Hidup Siswa

"Pak Guru, jujur saja saya tidak mengerjakan PR saya".

"Saya pusing Pak Guru, di rumah pekerjaan saya terlalu banyak".

"Semalam saya mengerjakan PR mata pelajaran lain, jadi PR-nya tidak sempat dikerjakan".

Itulah jawaban siswa yang paling sering saya terima manakala saya menagih PR (Pekerjaan Rumah/Tugas Rumah) mereka. Demikian kata teman guru saya, saat saya bertemu di sebuah pelatihan.

Memang menangani PR bagi kita para guru kadang-kadang membuat kecewa. Padahal saat kita memberikan PR tersebut disertai dengan 'wanti-wanti' bahwa hasil pekerjaan rumah nantinya akan mempengaruhi nilai mata pelajarannya, hasil pekerjaan rumah nantinya akan menentukan kelulusan atau naik kelas mereka. Sementara, dilain pihak sesuai dengan tuntutan kurikulum, kita diharuskan untuk memberikan materi dengan tuntas.

Lantas, memberi hukuman kepada siswa yang tidak mengerjakan PR-nya? Ups, no-way, tunggu dulu, bukan jamannya lagi memberi hukuman fisik, ini sekolah bukan tempat untuk orang-orang hukuman. Dengan sedikit tambahan kesibukan, cobalah menilik alasan-alasan siswa tersebut, bisa jadi mereka tidak mengerjakannya karena dengan kepolosan atau apa adanya memang mereka tidak mengetahuinya, kurang memiliki kesempatan untuk mengerjakannya di rumah (makanya disebut Pekerjaan Rumah) atau bahkan kehilangan kepercayaan terhadap guru. Siswa kehilangan kepercayaan kepada guru? Ya, karena guru memberikan PR yang lumayan banyak dengan deadline terbatas sehingga terkesan balas dendam (seperti dosen saya saat saya kuliah) dan tidak pernah mengembalikan hasil pekerjaan mereka mengakibatkan mereka menjadi malas untuk berbuat.

Olehnya itu, kita perlu mengkomunikasikannya secara intensif dengan siswa, membuat komitmen bahwa mengerjakan PR bukan sekedar benar atau salah sehingga memperoleh nilai bagus, tetapi bentuk tanggung jawab yang diberikan sehingga siswa menjadi pelajar yang bertanggung jawab. Tentunya setelah mereka mengerjakannya, kita memeriksa, memberi nilai dan mengembalikan disertai dengan komentar yang memotivasi mereka.

Kita perlu berkomunikasi pula kepada orang tua siswa bahwa siswa memperoleh pelajaran tidak saja di sekolah, tetapi juga di rumah. Sebagai gambaran bahwa dari 24 jam sehari, waktu siswa berada di rumah lebih banyak (selama 18 jam) dibandingkan waktu mereka di sekolah yang hanya 5-6 jam. Untuk itu dengan memberikan penyadaran kepada orang tua siswa agar memberi kesempatan kepada anaknya untuk membuka kembali pelajaran mereka di rumah atau bahkan membuat jam wajib belajar di rumah.

Pun, kita perlu berkomunikasi kepada sesama guru agar pemberian PR tidak bertumpuk pada hari yang sama waktu penyetorannya sehingga siswa tidak merasa terbebani. Dan yang tak kalah pentingnya adalah introspeksi diri, melihat kembali metode pembelajaran yang kita lakukan mungkin kurang pas untuk materi yang kita ajarkan dan bagi siswa, tidak memberikan PR dalam jumlah yang banyak disertai memperhitungkan waktu penyelesaiannya, memilih materi pelajaran yang benar-benar penting (esensial) saja untuk pencapaian kompetensi mereka, serta memberikan apresiasi bagi mereka yang mengerjakan PR dan memperoleh nilai bagus. Dengan begitu, mudah-mudahan siswa dengan kesadaran yang tinggi mau mengerjakannya sehingga PR bukan menjadi beban hidup mereka. Bukankah tugas guru adalah memberikan kemudahan bagi siswa untuk mempersiapkan kehidupannya yang akan datang? Bagaimana?

Kendari, 21 September 2010.

Kamis, 19 Agustus 2010

INDONESIA DALAM JENDELA JOHARI

Jendela Johari adalah ilustrasi kotak (diberi nama Jendela Johari) yang dibagi sama besar oleh sumbu vertikal dan horisontal sehingga menjadi 4 daerah (kuadran). Ilustrasi ini adalah sebuah metode untuk membandingkan atau menggolongkan sesuatu yang dilihat dari 2 kategori. Sebagai model, kita ingin membandingkan orang Indonesia dengan negara lain dilihat dari tipe mereka dalam hal kesukaan berbicara dan bekerja. Inilah hasilnya...!

Daerah 1: Banyak berbicara dan banyak bekerja: orang Amerika, Inggris...
Daerah 2: Banyak berbicara dan sedikit bekerja: orang India.
Daerah 3: Sedikit berbicara dan sedikit bekerja: orang Anggola, Nigeria.
Daerah 4: Sedikit berbicara dan banyak bekerja: orang Jepang, Korea.

Kalau orang Indonesia? Ternyata tidak berada dalam salah satu daerah pada Jendela Johari karena... Lain yang dibicarakan... Lain yang dikerjakan.

Tapi bagaimanapun, AKU CINTA INDONESIA. I LUV FULL... Dirgahayumu yang ke-65. AKU TAK AKAN MALU MENJADI ANAK NEGERI.

Sabtu, 01 Mei 2010

Namanya OSEP........

Siswa itu namanya OSEP, duduk di kelas VIII (kelas 2 tingkat SMP). Ia kelahiran tahun 1992. Berati umurnya sekarang 18 tahun. Lha, usia segitu masih duduk di kelas VIII? Memang kenapa begitu lama? Selidik punya selidik ternyata ia menghabiskan 9 tahun di tingkat SD. Itu informasi yang saya peroleh dari teman-teman dan gurunya sewaktu di SD dulu. Tambahan informasi dari orang tuanya bahwa ia memang ada kelainan sifat dibanding saudara-saudaranya. Pengidap autis kata ibu guru BP/BK di sekolah kami.

Hari ini Ia datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Tidak biasanya ia seperti itu, karena hari-hari sebelumnya selalu terlambat. Datang lebih cepat, tapi tidak masuk ke halaman sekolah. Ia menunggu di pintu gerbang. Ketika kutanya, dengan sedikit cuek, ia menjawab, “menunggu bapak Kepala Sekolah, Pak.” Dari gerak-geriknya, aku menduga ada masalah yang dihadapinya, entah masalah pribadinya atau masalah pelajarannya.

Ternyata memang benar, informasi dari Kepala Sekolah yang aku peroleh, rupanya ia menuntut untuk diikutkan dalam kegiatan PORSENI Tingkat SMP sekotaku untuk cabang lari. Kata si Osep, Pak guru Pembina OSIS tidak mencantumkan namanya. Padahal menurutnya, ia merasa berhak karena sewaktu lomba lari yang diadakan sekolahku ia mendapat juara ke-4.

Teringat sewaktu lomba lari tingkat sekolah yang diadakan beberapa bulan lalu. Saat final yang tinggal diikuti oleh 4 orang termasuk Osep, start harus berulang kali dilakukan karena si Osep sering ‘mencuri’ start walaupun akhirnya ia hanya mendapat juara ke-4. Ketika upacara penyerahan hadiah untuk juara lomba yang hadiahnya hanya disediakan untuk sampai juara ke-3, ia berteriak-teriak menuntuk hadiahnya juga sebagai juara ke-4. Akibatnya, upacara penyerahan hadiah itu tertunda beberapa lama. Saat itu sepertinya tidak ada yang mengacuhkanmu. Untung aku kebetulan membawa sebungkus besar permen yang kusimpan dalam kantung kresek. Saat kuserahkan kepadanya, awalnya ia menolak tapi akhirnya menerima dengan syarat harus melalui upacara penyerahan itu. Aku tertawa geli sambil berkata dalam hati, “Anak ini butuh pengakuan dari orang lain.” Pengakuan dari orang lain?

Teringat pula saat rapat penaikan kelas setahun lalu. Dalam rapat itu, hal yang menurutku alot diperdebatkan adalah mengenai kasus Osep. Teman-teman guru yang mengajar di kelas Osep menyatakan bahwa ia tidak layak untuk naik kelas karena kriteria-kriteria naik kelas yang ditentukan sekolahku (kecuali absensinya yang 100% tidak pernah absen) tidak dapat Ia dipenuhi. Aku dan beberapa orang lainnya menyarankan untuk kasus Osep, tidak menggunakan kriteria anak normal sehingga ia dipertimbangkan untuk naik kelas. Mirip-miriplah seorang ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Yah, akhirnya ia duduk di kelas VIII seperti sekarang.

Teman-teman guru di sekolah sering menghindar untuk bertemu dengannya. Karena jika bertemu dengannya mereka harus mengeluarkan ‘energi’ ekstra untuk melayaninya bercerita. Mungkin hanya aku guru yang ‘tabah’ mendengar cerita-ceritanya tentang keberhasilannya menggoda cewek tetangga, mengeluh karena kemarin habis dimarahi oleh bapaknya, berkelahi dengan saudara yang 3 orang, keberhasilanya mendapat beberapa ekor ikan saat memancing, ataukah berbagi kegembiraan karena memperoleh uang sebesar Rp 5.000,00 setelah membantu tetanggamu mengambilkan air. Kelihatannya memang ia butuh untuk berbagi cerita dengan seseorang, dan seseorang itu harus mendukungnya dengan menunjukkan pengakuan atas dirinya. Sepertinya ia telah memilih orang itu, dan orang itu adalah AKU.

Minggu, 25 April 2010

TERNYATA, angka 1 = 2 ..............!!

Sebuah pengalaman mengajarkan materi bentuk aljabar dan memfaktorkan.
Dari langkah-langkah aljabar berikut, ternyata 1 = 2.

Misalkan a = b
Jika masing-masing dikali a diperoleh: a.a = a.b atau a2 = ab
Jika masing-masing dikurangi b2 diperoleh: a2 – b2 = ab – b2
Jika difaktorkan menjadi: (a – b)(a + b) = b(a – b)
Jika dibagi dengan (a – b) diperoleh: a + b = b
Karena a = b maka: b + b = b
Atau: 2b = b
Akhirnya: 2 = 1

Adakah yang salah/keliru dengan langkah-langkah di atas...?!

Masalah di atas diberikan saat aku akan mengakhiri pelajaran matematika. Setelah mengemukakan masalah tersebut, kemudian siswa diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. Hasilnya, terlihat siswa melakukan diskusi, mengajukan dugaannya dan (ini yang tak terduga olehku) berdebat dengan seru. Tak lama bunyi bel sebagai tanda pergantian pelajaran. Para siswa dengan spontan menjawab: “Aaaaaah, waktunya habis, Pak Guru! Boleh tambah waktunya?”

.....................................................................................................................................

Sambil berjalan ke ruang guru, aku berpikir lebih baik memberikan mereka tugas-tugas semacam ini biar mereka melakukan diskusi, mengajukan dugaannya dan berdebat dengan ramai biar kelas jadi seru.

Hmmm.... Patut dicoba.

Sabtu, 03 April 2010

SEKOLAH DENGAN HALAMAN YANG “DILARANG LEWAT”

Sangat disayangkan, sering ditemukan sekolah-sekolah masih banyak membiarkan halamannya menjadi kosong. Bahkan, di depan halaman tersebut dipasangi plang yang bertuliskan “DILARANG LEWAT”. Sementara di sisi lain halaman itu siswa-siswi duduk nongkrong tidak ada yang diperbuat, padahal jam belajar masih berlangsung. Situasi ini penulis temukan saat mengunjungi sebuah sekolah yang menurut para guru mereka merupakan sekolah favorit di daerah mereka. 

Potret dari manajerial sekolah kita? Padahal, semangat MBS masih terasa gaungnya, apalagi dengan KTSP yang didalamnya terdapat kurikulum Pengembangan Diri. Sekolah dapat memanfaatkan lapangan kosong semisal dengan membangun sarana olahraga. Dengan memanfaatkan halaman kosong, tidak ada lagi siswa-siswi duduk nongkrong, tidak ada aktifitas. Mereka dapat memanfaatkannya untuk kegiatan ekstrakurikuler. Tidak punya sumber daya selebihnya (dana, dll)? Sekolah dapat bersinergi dengan masyarakat sebagai pengguna sekolah, untuk dapat membangun lapangan olahraga serta berkontribusi melengkapi sarana olahraga tersebut. Dengan mengajak mereka untuk berpartisipasi, mereka pun dapat memanfaatkan lapangan itu sebagai sarana olahraga disaat siswa tidak menggunakannya. Harapannya tentu rasa memiliki sekolah menjadi tumbuh. Dengan rasa memiliki oleh masyarakat, mereka akan terpanggil untuk turut mengembangkan sekolah, dan tidak segan-segan untuk berkontribusi didalamnya.  
Ya, akan sangat terasa manfaatnya.  

SALAM MANFAAT.

Sabtu, 20 Maret 2010

Matemagis Sebagai Upaya Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Matematika

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk menyediakan dan menambah bahan bacaan bagi rekan-rekan guru, siswa, orangtua, dan pengguna matematika, dalam rangka membantu mempelajari dan memahami matematika melalui aplikasi matemagis sehingga motivasi siswa menjadi meningkat. Selama ini siswa beranggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang membosankan, kaku, tidak rekreatif dan ilmu menghapal rumus sehingga membuat mereka tidak tertarik. Sebaliknya, justru terdapat hal-hal menarik seputar matematika yang jika ditelaah ternyata unik dan menarik, diantaranya teknik hitung cepat, eksplorasi bilangan ajaib, permainan dan teka-teki. Dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika, guru berperan besar untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang menyenangkan. Oleh karena itu guru sebagai motivator seyogyanya mengetahui hakekat pembelajaran matematika, mengetahui dan selalu berupaya untuk membangkitkan motivasi belajar siswanya. Dengan aplikasi matemagis akan dapat meningkatkan motivasi mereka sehingga prestasi belajarnya meningkat secara optimal.

Kata Kunci: Matemagis, Pembelajaran Matematika, Motivasi Belajar.

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Jika kita menanyakan kepada anak sekolah dasar hingga menengah, mata pelajaran apa yang paling menakutkan? Dapat dipastikan jawabannya akan seragam: matematika! Perlu waktu berjam-jam ditemani kerutan kening untuk menyelesaikan soal-soal hitungan. Rasa takut terhadap pelajaran matematika memang sering kali menghinggapi perasaan para siswa.
Menurut Asmin (2003:618) menyatakan bahwa masalah klasik dalam pendidikan matematika di Indonesia adalah rendahnya prestasi siswa serta kurangnya motivasi terhadap pembelajaran matematika di sekolah. Sedangkan Suharta (2006) menyatakan bahwa selain objek matematika yang bersifat abstrak, rendahnya prestasi belajar matematika siswa juga disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensif atau secara parsial dalam matematika. Selain itu, pembelajaran matematika yang dirancang oleh guru untuk siswa belum bermakna, sehingga pemahaman siswa menjadi sangat lemah. Dari sisi guru, Sobel dan Maletsky (2005:1-2) menyatakan faktor kelemahan siswa yaitu banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan membahas tugas-tugas lalu, memberi pelajaran baru, memberi tugas kepada siswa. Pembelajaran seperti di atas yang rutin dilakukan hampir tiap hari dapat dikategorikan sebagai 3M, yaitu membosankan, membahayakan dan merusak seluruh minat siswa.
Akibatnya menurut Firdaus (2008) adalah munculnya mitos sesat seputar matematika sekolah yaitu matematika merupakan ilmu yang membosankan, kaku, tidak rekreatif dan ilmu hafalan dari sekian banyak rumus. Mitos ini membuat siswa malas mempelajari matematika dan menjadi frustasi, bahkan menghindarkan diri untuk mengikuti program sekolah sehingga menjadi putus sekolah.
Mitos tersebut jelas keliru. Meski jawaban (solusi) matematika terasa eksak lantaran solusinya tunggal, tidak berarti matematika kaku dan membosankan. Walau jawabannya hanya satu (tunggal), cara atau metode menyelesaikan soal matematika sebenarnya boleh bermacam-macam. Sebagai contoh, untuk mencari solusi dari dua buah persamaan, dapat digunakan tiga cara yaitu, metode subtitusi, eliminasi, dan grafik. Solusi matematika yang bersifat tunggal menimbulkan kenyamanan karena tegas dan pasti.
Selain tidak membosankan, matematika juga rekreatif dan menyenangkan. Albert Einstein, ilmuwan terbesar abad ke-20, menyatakan bahwa matematika adalah ‘senjata’ utama dirinya dalam merumuskan konsep relativitasnya yang sangat terkenal tersebut. Menurut Einstein, dia menyukai matematika ketika pamannya menjelaskan bahwa prosedur kerja matematika mirip dengan cara kerja detektif, sebuah lakon yang sangat disukainya sejak kecil.
Memang, cara kerja matematika mirip sebuah permainan. Mula-mula kita harus mengidentifikasi variabel-variabel yang ada melalui atributnya masing-masing. Setelah itu, melakukan operasi di antara variabel tersebut. Yang paling menyenangkan, dalam melakukan operasi kita dibebaskan melakukan manipulasi (trik) semau kita agar sampai kepada solusi yang diharapkan. Kebebasan melakukan manipulasi dalam operasi matematika inilah yang menantang dan mengundang keasyikan tersendiri, bak sedang dalam permainan atau petualangan. Karena itu, tidak mengherankan jika terkadang kita menjumpai siswa yang asyik menyendiri dengan soal-soal matematikanya.
Selain itu, secara intrinsik matematika juga memiliki angka atau bilangan yang mengandung misteri yang sangat mengasyikkan. Misalnya kita melakukan operasi perkalian maupun penjumlahan terhadap dua bilangan tertentu, maka terkadang akan muncul bilangan yang memiliki bentuk simetri tertentu. Contoh lain, kita dapat menunjukkan kemahiran menebak dengan tepat angka tertentu yang telah mengalami beberapa operasi. Bagi yang belum memahami matematika, kemampuan menebak angka dianggap sihir (magis), padahal itu merupakan operasi hitung yang dapat dijelaskan secara matematika.
Saat ini di kota-kota besar di Indonesia termasuk Kendari, banyak dibuka lembaga kursus (non formal) bidang matematika yang menawarkan kehandalan kecepatan berhitung. Tidak heran jika orang tua yang memahami keberadaannya berbondong-bondong untuk memasukkan anaknya. Menurut mereka, makin cepat anaknya melakukan perhitungan maka makin hebat anak itu dimata masyarakat. Ini satu fenomena menarik di dunia pendidikan pada masyarakat kita, sekaligus tantangan bagi para guru matematika yang berkecimpung di dunia pendidikan formal (baca:sekolah).
Olehnya itu, dengan melihat fenomena di atas, peran guru menjadi penting. Menciptakan sebuah pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning) merupakan sebuah tantangan. Guru harus mampu melakukan perpaduan secara sinergi terhadap segala kemampuan yang dimilikinya serta perhatian siswa menjadi sebuah dorongan kekuatan pembelajaran. Guru harus memberi kesempatan anak untuk bereksplorasi dalam suasana rileks untuk dapat menemukan konsep matematika melalui keterampilan atau melalui permainan. Dalam suasana ini akan memunculkan motivasi siswa melalui rasa senang dalam pembelajaran matematika karena adanya totalitas dalam dirinya sehingga siswa akan aktif berpartisipasi. Dalam konteks inilah matemagis memberikan perannya, karena bila diterapkan secara tepat dan kreatif akan menjadi jembatan pencapaian tujuan pembelajaran.

2. Tujuan
Berdasarkan uraian singkat pada latar belakang di atas, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menyediakan dan menambah bahan bacaan bagi rekan-rekan guru, siswa, orangtua, dan pengguna matematika dalam rangka membantu siswa mempelajari dan memahami matematika melalui aplikasi matemagis sehingga motivasi siswa menjadi meningkat. Dengan tulisan ini pula diharapkan rekan-rekan guru dapat terinspirasi dan terdorong lebih giat untuk menerapkan atau melaksanakan kegiatan pembelajaran matematika yang menyenangkan di kelas pada materi pembelajaran yang sesuai.

3. Masalah
Masalah utama yang akan dijawab dalam tulisan ini adalah bagaimanakah gambaran aplikasi matemagis sebagai upaya guru untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran matematika.

4. Manfaat
Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai matemagis dan berbagi pengalaman tentang upaya memotivasi siswa melalui aplikasi matemagis dalam pembelajaran matematika.

B. PEMBAHASAN
1. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan orang tersebut turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. Menurut Wina Sanjaya (2006: 100) pembelajaran adalah proses mengatur lingkungan agar siswa belajar sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Dalam pengertian ini secara implisit bahwa dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan alat, metode atau media untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Pembelajaran matematika pada hakekatnya untuk mengembangkan kreativitas dan aktivitas siswa, melalui beberapa interaksi dan pengalaman belajar. Dalam kegiatan pembelajaran tentu terjadi interaksi antara siswa dan guru. Guru mempunyai peran yang sangat penting dalam keberhasilan belajar siswanya. Karena itu belajar harus dilakukan dengan sengaja, direncanakan sebelumnya dengan struktur tertentu dengan maksud agar kegiatan pembelajaran dan hasil-hasil yang dicapai dapat dikontrol secara cermat. Guru dengan sengaja menciptakan kondisi dan lingkungan yang menyediakan kesempatan belajar kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu, dilakukan dengan cara tertentu, dan diharapkan memberikan hasil tertentu pula kepada siswa.
Dalam pembelajaran matematika guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka serta mengembangkan potensi yang dimilikinya. Ebbutt dan Straker (Depdiknas, 2006: 10), memberikan pandangannya bahwa agar potensi siswa dapat berkembang dan mempelajari matematika secara optimal, maka hendaknya guru memperhatikan bahwa siswa akan mempelajari matematika jika mereka mempunyai motivasi. Implikasi terhadap pembelajaran matematika adalah guru perlu menyediakan kegiatan yang menyenangkan, memperhatikan keinginan siswa, menciptakan suasana kelas yang mendukung kegiatan belajar, memberikan kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, memberikan kegiatan yang menantang, memberikan kegiatan dengan harapan keberhasilan memadai, menghargai setiap pencapaian siswa, dan merencanakan kegiatan yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.
Berdasarkan hal di atas, maka tugas guru matematika menjadi ganda. Pertama, bagaimana materi pembelajaran sampai kepada siswa sesuai dengan kurikulum. Kedua, bagaimana proses pembelajaran berlangsung dengan pelibatan siswa secara penuh, dalam arti proses pembelajaran yang berlangsung dapat berjalan dengan menyenangkan agar motivasi belajar mereka meningkat. Sebuah tantangan bagi guru matematika untuk senantiasa berpikir dan bertindak kreatif sehingga menjadikan pembelajaran matematika yang efektif.
Dengan pembelajaran yang efektif dalam matematika tentu memiliki nilai relevansi dengan pencapaian daya matematika dan memberi peluang untuk bangkitnya kreativitas guru. Kemudian berpotensi mengembangkan suasana belajar selain dapat menarik perhatian siswa.

2. Motivasi Belajar dan Upaya Peningkatannya
Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi belajar merupakan salah satu hal yang penting. Tanpa motivasi, seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik. Motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak (energizer) yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan (Syah, 2001:137). Siswa yang mempunyai tingkat motivasi belajar yang tinggi dapat membuatnya lebih aktif belajar dan metode pembelajaran tertentu yang diterapkan dapat pula mendukung keaktifan siswa yang diunggulkan oleh motivasinya. Makin tinggi motivasi siswa diharapkan makin aktif ia belajar sehingga bermuara tingkat keberhasilan pembelajaran yang tinggi.
Motivasi belajar tentu berkaitan dengan psikologis siswa. Dari sudut pandang perkembangan psikologis, siswa pada jenjang pendidikan dasar berada pada fase peralihan menuju tingkat dewasa. Pada awalnya mereka senang bermain dengan dunia sekitarnya, dan sebaliknya masih sulit untuk diajak atau mempengaruhi emosional mereka kepada hal-hal yang serius pada praktik pembelajaran, serta sulit untuk diarahkan kepada perilaku orang dewasa. Sebagai akibatnya siswa yang dibelajarkan dalam kondisi serba serius maka motivasi mereka menjadi berkurang, bahkan lambat laun menjadi hilang. Melalui metode pembelajaran yang digunakan guru dapat membantu mengarahkan emosional siswa menjadikan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan.
Berdasarkan sumbernya, motivasi dapat dibagi dua, yaitu motivasi intrinsik apabila sumbernya datang dari dalam diri siswa, dan motivasi ekstrinsik apabila sumbernya adalah lingkungan di luar diri siswa (Syah, 2001:137). Untuk proses pembelajaran, motivasi intrinsik lebih menguntungkan karena biasanya dapat bertahan lebih lama. Motivasi ekstrinsik dapat diberikan oleh guru dengan jalan mengatur kondisi dan situasi belajar yang kondusif. Dengan jalan memberikan penguatan (reinforcement) maka motivasi yang mula-mula bersifat ekstrinsik lambat laun diharapkan akan berubah menjadi motivasi intrinsik.
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya untuk memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau melakukan belajar. Beberapa upaya yang menurut Sutikno (2009) dapat digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yaitu:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke siswa,
2. Memberikan hadiah/pujian dan hukuman,
3. Menciptakan persaingan/kompetisi,
4. Memberikan perhatian maksimal ke siswa,
5. Membentuk kebiasaan belajar yang baik,
6. Membantu kesulitan belajar baik secara individual maupun kelompok,
7. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
8. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Lebih lanjut Depdiknas (2004:63) memberikan saran-saran bagaimana guru dapat meningkatkan motivasi siswanya, yaitu setiap materi pembelajaran perlu dibuat menarik, misalkan dengan mencari contoh-contoh keterkaitan matematika yang sesuai dengan realitas kehidupan atau mata pelajaran lain, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bereksplorasi misalnya dengan menggunakan matemagis, atau memanfaatkan materi yang sesuai dengan realitas kehidupan atau mata pelajaran lain. Selain itu setiap proses pembelajaran diusahakan membuat siswa aktif dan berguna, dan membuat siswa ingin menerapkan apa yang telah dipelajari, dengan cara menghubungkan materi yang diajarkan dengan realitas yang disenangi dan dikagumi oleh masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas, maka upaya untuk meningkatkan motivasi siswa sangat perlu untuk diketahui guru dan diterapkan di dalam pembelajaran yang dikelolanya, sebab tanpa adanya motivasi siswa akan sulit berhasil dalam proses pembelajarannya.

3. Matemagis
Matemagis (Bahasa Inggris: Mathmagic) merupakan teknik berhitung cepat yang dikembangkan oleh ahli matematika Jakow Trachtenberg (Wahidin, 2009). Mathmagic sendiri merupakan pengembangan dari GANITA SUTRA yang dalam bahasa India berarti matematika. Teknik ini dikenal di India sekitar 3000 tahun yang lalu yang tergabung dalam Veda dan beberapa literatur Phytagoras menggunakan GANITA SUTRA. Veda adalah ilmu yang membicarakan tentang kesehatan, sains dan matematika serta ilmu-ilmu lain yang bermanfaat bagi kehidupan manusia (termasuk religi). Eksplorasi GANITA SUTRA di Eropa dan Amerika Serikat dimulai sekitar tahun 1965 ketika GANITA SUTRA tersebut berhasil diterjemahkan oleh salah satu mahasiswa matematika bernama Krishna Tirtahaj. Dengan GANITA SUTRA ini teknik berhitungnya menjadi sederhana dan mudah serta sebenarnya sudah sering kita lakukan. Pembuktian perhitungan dalam GANITA SUTRA banyak menggunakan Aljabar.
Pada tahun 1993, di Amerika Serikat, seorang guru SD bernama Scott Flansburg, berhasil membuat rekor dan tercatat dalam Guiness Book of Records sebagai ‘Human Calculator’ karena kemampuannya menjumlahkan bilangan dengan cepat di kepala dan berhasil mengalahkan kecepatan kalkulator. Ternyata sang ‘Human Calculator’ menggunakan GANITA SUTRA yang telah diberi nama baru menjadi Mathmagic.
Selanjutnya Handojo dan Srihari (2005:3) menyatakan bahwa matemagis berangkat dari logika berpikir sederhana yaitu angka-angka yang dikenal di dunia selama ini, seberapa banyak pun digitnya, pasti hanya terdiri dari angka "0" sampai "9". Artinya, jenis angka di muka bumi ini hanya sembilan buah. Jika hanya sembilan buah, maka matematika tidaklah perlu menjadi momok siswa.
Menurut Setyono (2006), tujuan matemagis adalah menciptakan pembelajaran matematika menjadi kegiatan yang menyenangkan dengan prioritas pembangunan kepercayaan, citra, dan harga diri siswa. Setelah semua tercapai, penguasaan materi matematika otomatis menjadi meningkat. Sedangkan Sobel dan Maletsky (2005:30) menyatakan manfaat yang diperoleh dengan menggunakan mathmagic yaitu untuk memperkenalkan topik atau materi tertentu dan menunjukkan aplikasi dari materi yang sedang dipelajari.
Olehnya itu dengan menggunakan matemagis, guru dapat memotivasi siswa untuk mencintai matematika, ataupun bagi pengguna matematika secara umum dapat menjumlah, mengurangkan, mengalikan, dan membagi banyak angka dalam kepala, memeriksa jawaban soal, dan menikmati matematika sepanjang waktu.

4. Contoh Penggunaan Matemagis dalam Pembelajaran Matematika
Banyak hal yang dapat digunakan untuk menarik perhatian dan memotivasi siswa untuk belajar matematika berdasarkan pada trik-trik yang diuji secara relatif sederhana, misalnya:
a. Hitung Cepat,
Matematika selalu berhubungan dengan kecepatan menghitung. Artinya, berhitung adalah bagian tak terpisahkan dari matematika. Olehnya itu kemampuan berhitung merupakan kemampuan mutlak yang dimiliki siswa. Kebanyakan siswa akan tertarik dengan cara cepat untuk melakukan perhitungan. Beberapa contoh menarik diantaranya:
1) Perkalian yang melibatkan angka 10, 100 atau 1000 dan seterusnya.
Cara cepat menghitung hasil perkalian 10, 100 atau 1000 dan seterusnya adalah menambahkan angka 0 yang sesuai dengan banyak angka 0 pada pengalinya (pengali 10, banyak angka 0 sama dengan 1; pengali 100, banyak angka 0 sama dengan 2 dan seterusnya) pada bilangan yang dikalikan.
Contoh : 6 x 10 = ....
Cara cepat : - Tulislah 6 sebagai bilangan yang dikalikan;
- Tambahkan 0 sebanyak 1 kali di sebelah kanan 6.
Jadi hasilnya adalah 60.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
6 x 10 = (6)(0) = 60

Contoh : 27 x 100 = ....
Cara cepat : - Tulislah 27 sebagai bilangan yang dikalikan;
- Tambahkan 0 sebanyak 2 kali di sebelah kanan 27.
Jadi hasilnya adalah 2700.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
27 x 100 = (27)(00) = 2700

2) Perkalian yang melibatkan angka 9, 99 atau 999 dan seterusnya.
Cara cepat menghitung hasil perkalian 9, 99 atau 999 dan seterusnya adalah mengalikan dengan (10–1), (100–1), atau (1000–1), dilanjutkan dengan menggunakan hukum distributif perkalian terhadap pengurangan.
Contoh : 8 x 9 = ....
Cara cepat : - Kalikan bilangan 8 dengan 10;
- Kurangi hasil yang diperoleh dengan 8.
Jadi hasilnya adalah 72.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
8 x (10–1) = 80–8 = 72

Contoh : 57 x 99 = ....
Cara cepat : - Kalikan bilangan 57 dengan 10;
- Kurangi hasil yang diperoleh dengan 57.
Jadi hasilnya adalah 513.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
57 x 99 = 57 x (100–1) = 5700 – 57 = 5643.

Contoh : 786 x 999 = ....
Cara cepat : - Kalikan bilangan 57 dengan 10;
- Kurangi hasil yang diperoleh dengan 57.
Jadi hasilnya adalah 513.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
786 x 999 = 786 x (1000–1) = 786000–786 = 785214

3) Perkalian dengan angka 5, 25 atau 125.
Cara cepat menghitung hasil perkalian 5, 25 atau 125 adalah mengalikan bilangan dengan 10, 100 atau 1000 lalu hasilnya dibagi 2, 4 atau 8.
Contoh : 12 x 5 = ....
Cara cepat : - Tulislah 120 sebagai hasil dari 12 x 10 (12 ditambah dengan 1 angka 0);
- Membagi 120 dengan 2 diperoleh 60.
Jadi hasilnya adalah 60.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
12 x 5 = (12x10) : 2 = 120 : 2 = 60

Contoh : 648 x 5 = ....
Cara cepat : - Tulislah 6480 sebagai hasil dari 648 x 10 (648 ditambah dengan 1 angka 0);
- Hasil perkalian yaitu 6480 lalu dibagi 2 diperoleh 3240.
Jadi hasilnya adalah 3240.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
648 x 5 = (648x10) : 2 = 6480 : 2 = 3240

Contoh : 58 x 25 = ....
Cara cepat : - Tulislah 5800 sebagai hasil dari 58 x 100 (58 ditambah dengan 2 angka 0);
- Hasil perkalian yaitu 5800 lalu dibagi 4 diperoleh 1450.
Jadi hasilnya adalah 1450.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
58 x 25 = (58x100) : 4 = 5800 : 8 = 1450

Contoh : 32 x 125 = ....
Cara cepat : - Tulislah 32000 sebagai hasil dari 32 x 1000 (32 ditambah dengan 3 angka 0);
- Hasil perkalian yaitu 32000 lalu dibagi 8 diperoleh 4000.
Jadi hasilnya adalah 4000.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
32 x 125 = (32x1000) : 8 = 32000 : 8 = 4000

4) Perkalian 11.
Cara cepat menghitung hasil perkalian 11 adalah dengan menjumlahkan sepasang angka yang dikalikan dimulai dari kanan ke kiri.
Contoh : 43 x 11 = ....
Cara cepat : - Tulislah 3 yang merupakan bilangan paling kanan;
- Tulislah 7 yang merupakan hasil dari 3+4;
- Tulislah 4 yang merupakan bilangan paling kiri.
Jadi hasilnya adalah 473.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah: (4)(4+3)(3) = 473.
Cara di atas berlaku pula untuk angka ratusan, ribuan dan seterusnya.
Contoh : 5867 x 11 = ....
Cara cepat : - Tulislah 7 yang merupakan bilangan paling kanan;
-Tulislah 3 (dari 13 yang merupakan hasil dari 6+7) dengan 1 disimpan;
- Tulislah 5 (dari 15 yang merupakan hasil dari 8+6+1) dengan 1 disimpan;
- Tulislah 4 (dari 14 yang merupakan hasil dari 5+8+1) dengan 1 disimpan;
- Tulislah 6 yang merupakan hasil dari 5+1.
Jadi hasilnya adalah 64537.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah:
(5)(5+8)(8+6)(6+7)(7) = 64537.

5) Pengkuadratan dengan bilangan satuan adalah 5.
Contoh : 352 = ....
Cara cepat : - Tulislah 25 sebagai hasil dari 5 x 5;
- Tulislah 12 didepan 25, yang merupakan hasil dari 3x4;
Jadi hasilnya adalah 64537.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah: (3x4)(5x5) = 1225.

6) Perkalian dua bilangan dengan bilangan puluhan yang sama sedangkan bilangan satuannya berjumlah 10.
Contoh : 76 x 74 = ....
Cara cepat : - Tulislah 24 sebagai hasil dari 6 x 4;
- Tulislah 56 didepan 24, yang merupakan hasil dari 7x8.
Jadi hasilnya adalah 473.
Ilustrasi dari cara cepat di atas adalah: (7x8)(6x4) = 5624.

b. Permainan menyembunyikan/menebak angka.
Permainan ini bermanfaat untuk membangkitkan minat siswa terhadap matematika sekaligus memperkenalkan mereka tentang variabel dan menunjukkan aplikasi dari penggunaan variabel tersebut.
Ilustrasi permainannya adalah sebagai berikut:

Langkah ke Guru mengatakan Siswa mengerjakan
1 Pikirkan sebuah bilangan n
2 Kalikan dengan 2 2n
3 Tambahkan dengan 7 2n + 7
4 Kurangi dengan 1 2n + 6
5 Bagi dengan 2 n + 3
6 Kurangi dengan bilangan yang mula-mula dipikirkan 3

Hasil akhir permainan ini bergantung pada langkah ke-2, ke-3, dan ke-6.
Dalam permainan ini, guru dapat menambahkan beberapa operasi lain untuk mendapatkan hasil yang bermakna, misalnya tanggal hari ini, atau bahkan sebelum permainan dimulai, guru telah menyiapkan jawabannya yang ditulis pada selembar kertas dan disimpan di bawah tempat duduk siswa, atau dimasukkan dalam amplop tertutup dan siswa diminta membacakannya.

c. Menebak tanggal lahir.
Permainan ini menggunakan lima lembar kartu dengan yang terdiri dari bilangan 1 sampai 31 sesuai dengan tanggal pada kalender. Angka-angka ini disusun sedemikian rupa sehingga letaknya pada kartu mengikuti bilangan berbasis tertentu.
Cara permainannya yaitu siswa diminta menunjuk/menandai kartu-kartu yang ada. Tanggal lahir siswa merupakan jumlah dari angka-angka terkecil pada kartu-kartu tersebut.

d. Bilangan Ajaib.
Bilangan ajaib dapat digunakan untuk menarik perhatian siswa sekaligus memotivasi siswa melakukan perhitungan. Permainan ini menggunakan bilangan 12.345.679 sebagai bilangan ajaib dan dapat digunakan misalnya untuk menebak angka favorit atau angka keberuntungan siswa (bilangan 1 sampai 9). Jika siswa memilih angka 3 maka ia diminta mengalikan dengan 27 (3x9) kemudian menunjukkan hasilnya. Hasil yang diperoleh merupakan bilangan yang seluruhnya terdiri dari angka keberuntungan siswa.
Ilustrasi dari perhitungan di atas adalah sebagai berikut:
Angka keberuntungan Operasi hitung Hasil
1 12.345.679 x 9 (1x9) 111.111.111
2 12.345.679 x 18 (2x9) 222.222.222
3 12.345.679 x 27 (3x9) 333.333.333
4 12.345.679 x 36 (4x9) 444.444.444
dan seterusnya

Beberapa bilangan ajaib yang lain dan mengikuti pola di atas adalah 15.873 x 14 (2x7) dan 8.547 x 26 (2x13).

e. Rekreasi matematika.
Salah satu permainan populer di kalangan siswa adalah teka-teki. Di samping merupakan hal yang menyenangkan, juga terdapat hal yang bermanfaat. Teka-teki dan masalah yang bersifat rekreasi matematika menurut Sobel dan Maletsky (2005:47) dapat merangsang keingintahuan serta mengembangkan kemampuan cara berpikir dan kemampuan di dalam persepsi ruang. Tujuan utamanya adalah untuk memotivasi belajar matematika.
Beberapa cara efektif yang digunakan penulis untuk menyajikan teka-teki ini antara lain menggunakan majalah dinding (mading) sekolah, kartu teka-teki bagi siswa yang mengikuti program pengayaan, dan menggunakannya sebagai bagian dari tugas siswa.
Berikut contoh teka-teki matematika yang dapat digunakan dalam pembelajaran misalnya:
1) Letakkan bilangan-bilangan 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10 ke dalam persegi-persegi berukuran 3x3 sedemikian sehingga jumlah baris, kolom dan diagonalnya sama dengan 18. Setiap bilangan hanya digunakan satu kali.

2) Substitusilah setiap huruf (variabel) yang ada pada alphametrik berikut sehingga mengikuti pola:
F I V E dikurangi F O U R menjadi O N E

Pengalaman penulis dalam mengaplikasikan matemagis dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari antusias siswa mengikutinya. Siswa akan merasa takjub setelah menyelesaikan perhitungan, dan ini akan terbawa sampai akhir. Bahkan sampai pada penulis disamakan dengan seorang entertainment yang sering membawakan tayangan magis pada sebuah stasiun televisi dan kebetulan memiliki nama yang sama dengan penulis.
Aplikasi matemagis dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, namun bukan berarti dalam prakteknya tidak ada hambatan. Hambatan utama yang ditemui adalah masih ada beberapa siswa yang belum menguasai fakta dasar operasi hitung (menjumlah dengan teknik menyimpan, mengurang dengan teknik meminjam, perkalian dan pembagian). Akibatnya waktu yang diperlukan untuk mengaplikasikannya menjadi relatif lebih lama.

C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Pembelajaran matematika menuntut kemampuan guru yang lebih profesional dalam bidangnya. Misalnya bagaimana guru menciptakan kondisi pembelajaran yang dimulai dari hal-hal yang menarik perhatian siswa. Selain itu, guru dituntut untuk terampil memilih teknik yang dapat membangkitkan motivasi siswa selama pembelajaran berlangsung. Salah satu upaya guru untuk memotivasi siswa adalah dengan mengaplikasikan matemagis melalui teknik hitung cepat, permainan matematika, eksplorasi bilangan ajaib serta mengajak mereka untuk rekreasi matematika melalui teka-teki.
Dengan ditunjang oleh pengetahuan guru tentang pembelajaran matematika disertai dengan upaya-upaya untuk memotivasi siswa melalui aplikasi matemagis maka siswa dengan mudah dapat diarahkan ke tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
2. Saran
Berdasarkan uraian dan simpulan tentang pembelajaran matematika dengan upaya-upaya untuk memotivasi siswa melalui aplikasi matemagis, maka diajukan beberapa saran sebagai berikut:
• Kepada guru disarankan agar dalam mengajarkan matematika di sekolah hendaknya terlebih dahulu memahami hakikat pembelajaran matematika dan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memotivasi siswa. Salah satu upaya tersebut dengan mengaplikasikan matemagis dalam kegiatan matematika mereka sehingga dapat mengantarkan siswa mencintai matematika.
• Kepada orangtua disarankan agar memberi kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi matematika dalam suasana nyaman, menemukan konsep matematika melalui permainan sehingga menumbuhkan kecintaan mereka terhadap matematika.